Teori Pemrosesan Informasi Berbentuk Media (Menurut Gagne dan Atkinson)
Komponen pertama
dari sistem memori yang dijumpai oleh informasi yang masuk adalah registrasi
penginderaan. Registrasi penginderaan menerima sejumlah besar informasi dari
indera dan menyimpannya dalam waktu yang sangat singkat, tidak lebih dari dua
detik. Bila tidak terjadi suatu proses terhadap informasi yang disimpan dalam
register penginderaan, maka dengan cepat informasi itu akan hilang. Keberadaan
register penginderaan mempunyai dua implikasi penting dalam pendidikan.
Pertama, orang harus menaruh perhatian pada suatu informasi bila informasi itu
harus diingat. Kedua, seseorang memerlukan waktu untuk membawa semua informasi
yang dilihat dalam waktu singkat masuk ke dalam kesadaran, (Slavin, 2000: 176).
Interpretasi
seseorang terhadap rangsangan dikatakan sebagai persepsi. Persepsi dari
stimulus tidak langsung seperti penerimaan stimulus, karena persepsi
dipengaruhi status mental, pengalaman masa lalu, pengetahuan, motivasi, dan
banyak faktor lain. Informasi yang dipersepsi seseorang dan mendapat perhatian,
akan ditransfer ke komponen kedua dari sistem memori, yaitu memori jangka
pendek. Memori jangka pendek adalah sistem penyimpanan informasi dalam jumlah
terbatas hanya dalam beberapa detik. Satu cara untuk menyimpan informasi dalam
memori jangka pendek adalah memikirkan tentang informasi itu atau
mengungkapkannya berkali-kali. Guru mengalokasikan waktu untuk pengulangan
selama mengajar. Memori jangka panjang merupakan bagian dari sistem memori
tempat menyimpan informasi untuk periode panjang.
Tinjauan
Pendekatan Pemrosesan Informasi
Teori kognisi
menjelaskan tentang bagaimana proses mengetahui terjadi pada manusia. Ada
beberapa model yang digunakan untuk menjelaskan proses mengetahui pada manusia.
Model pemrosesan informasi membahas tentang peran operasi-operasi kognitif
dalam pengolahan informasi (Hetherington & Parke, 1986). Dalam model ini
manusia dipandang sebagai sistem yang memodifikasi informasi sendiri secara
aktif dan terorganisir. Perkembangan seseorang dalam pemrosesan informasi
berkaitan dengan perubahan-perubahan kuantitatif dan kualitatif dalam aspek ini
serta pengaruh-pengaruh genetis dan lingkungan. Inti dari perkembangan dalam
pemrosesan informasi adalah terbentuknya sistem pada diri seseorang yang
semakin efisien untuk mengontrol aliran informasi (Miller, 1993).
Saat ini ada dua
model yang dapat digunakan untuk menjelaskan teori pemrosesan informasi, yaitu
model penyimpanan (store/structure model) dan model tingkat pemrosesan (level
of processing). Model penyimpanan dikembangkan oleh Atkinson & Shiffrin (dalam
Miller, 1993), sedangkan model tingkat pemrosesan dikembangkan oleh Craik dan
Lockhart (dalam Miller, 1993). Dalam model pemrosesan informasi yang
dikembangkan oleh Atkinson & Shiffrin, kognisi manusia dikonsepkan sebagai
suatu sistem yang terdiri dari tiga bagian, yaitu masukan (input), proses dan
keluaran (output). Informasi dari dunia sekitar merupakan masukan bagi sistem.
Stimulasi dari dunia sekitar ini memasuki reseptor memori dalam bentuk
penglihatan, suara, rasa, dan sebagainya. Selanjutnya, input diproses dalam
otak. Otak mengolah dan mentransformasikan informasi dalam berbagai cara.
Proses ini meliputi pengkodean ke dalam bentuk-bentuk simbolis, membandingkan
dengan informasi yang telah diketahui sebelumnya, menyimpan dalam memori, dan
mengambilnya bila diperlukan. Akhir dari proses ini adalah keluaran, yaitu
perilaku manusia, seperti berbicara, menulis, interaksi sosial, dan sebagainya
(Vasta, dkk., 1992).
Secara rinci,
Pressley, (1990) memaparkan pemrosesan informasi sebagai berikut : Pertama-tama,
manusia menangkap informasi dari lingkungan melalui organ-organ sensorisnya
(yaitu mata, telinga, hidung, dan sebagainya). Beberapa informasi disaring
(diabaikan) pada tingkat sensoris, kemudian sisanya dimasukkan ke dalam ingatan
jangka pendek (kesadaran). Ingatan jangka pendek mempunyai kapasitas
pemeliharaan informasi yang terbatas sehingga kandungannya harus diproses
sedemikian rupa (misalnya dengan pengulangan atau pelatihan), jika tidak akan
lenyap dengan cepat. Bila diproses, informasi dari ingatan jangka pendek
(short-term memory) dapat ditransfer ke dalam ingatan jangka panjang (long-term
memory). Ingatan jangka panjang (Long-Term Memory) merupakan hal penting dalam
proses belajar. Menurut Anderson (dalam Pressley, 1990), tempat penyimpanan jangka
panjang mengandung informasi faktual (disebut pengetahuan deklaratif) dan
informasi mengenai bagaimana cara mengerjakan sesuatu (disebut pengetahuan
prosedural).
Menurut
pandangan model pemrosesan informasi yang dikembangkan oleh Atkinson & Shiffrin,
sejak kecil seorang anak mengembangkan fungsi kontrol dalam mengolah informasi
dari lingkungannya. Menurut Hetherington & Parke (1986), pada usia antara 3
hingga 12 tahun, fungsi kontrol seseorang menunjukkan perkembangan yang pesat.
Fungsi tersebut mencakup pengaturan informasi yang diperlukan, termasuk memilih
strategi yang digunakan dan memonitor keberhasilan penggunaan strategi
tersebut. Dalam pandangan model ini, anak merupakan pengatur yang aktif dari
fungsi-fungsi kognitifnya sendiri. Oleh karena itu, dalam menghadapi suatu
masalah, anak memilih masalah yang akan diselesaikannya, memutuskan besar usaha
yang akan dilakukannya, memilih strategi yang akan digunakannya, menghindari
hal-hal yang mengganggu usahanya, serta mengevaluasi kualitas hasil usahanya.
Model pemrosesan
informasi berasumsi bahwa anak-anak mempunyai kemampuan yang lebih terbatas dan
berbeda dibanding orang dewasa. Anak-anak tidak dapat menyerap banyak
informasi, kurang sistematis dalam hal informasi apa yang diserap, tidak mempunyai
banyak strategi untuk mengatasi masalah, tidak mempunyai banyak pengetahuan
mengenai dunia yang diperlukan untuk memahami masalah, dan kurang mampu
memonitor kerja proses kognitifnya (Hetherington & Parke, 1986). Mengingat
perkembangan anak yang optimal adalah tujuan para psikolog perkembangan, maka
sangat relevan jika individu-individu yang berkecimpung di bidang ini melakukan
penelitian yang tujuannya bermuara pada meningkatkan kemampuan pemrosesan
informasi.
Model kedua yang
dapat digunakan untuk menjelaskan teori pemrosesan informasi adalah model
tingkat pemrosesan (level of process-ing). Model tingkat pemrosesan yang
dikembangkan oleh Craik dan Lockhart ini memiliki prinsip dasar bahwa informasi
yang diterima diolah dengan tingkatan yang berbeda. Semakin dalam pengolahan
yang dilakukan, semakin baik informasi tersebut diingat. Pada tingkat
pengolahan pertama akan diperoleh persepsi, yang merupakan kesadaran seketika
akan lingkungan. Pada tingkat pengolahan berikutnya akan diperoleh gambaran struktural
dari informasi. Pada tingkat pengolahan terdalam akan diperoleh makna (meaning)
dari informasi yang diterima (Craik dan Lockhart, dalam Morgan et al., 1986).
Menurut model
tingkat pemrosesan, berbagai stimulus informasi diproses dalam berbagai tingkat
kedalaman secara bersamaan bergantung kepada karakternya. Semakin dalam suatu
informasi diolah, maka informasi tersebut akan semakin lama diingat. Sebagai
contoh, informasi yang mempunyai imaji visual yang kuat atau banyak berasosiasi
dengan pengetahuan yang telah ada akan diproses secara lebih dalam. Demikian
juga informasi yang sedang diamati akan lebih dalam diproses daripada stimuli
atau kejadian lain di luar pengamatan. Dengan kata lain, manusia akan lebih
mengingat hal-hal yang mempunyai arti bagi dirinya atau hal-hal yang menjadi
perhatiannya karena hal-hal tersebut diproses secara lebih mendalam daripada
stimuli yang tidak mempunyai arti atau tidak menjadi perhatiannya (Craik &
Lockhart, 2002).
Pengulangan
(rehearsal) - yang memegang peranan penting dalam pendekatan model penyimpanan
- juga dianggap penting dalam pendekatan model tingkat pemrosesan. Namun,
menurut pandangan model tingkat pemrosesan, hanya mengulang-ngulang saja tidak
cukup untuk mengingat. Untuk memperoleh tingkatan yang lebih dalam, aktivitas
pengulangan haruslah bersifat elaboratif. Dalam hal ini, pengulangan harus
merupakan sebuah proses pemberian makna (meaning) dari informasi yang masuk.
Istilah elaborasi sendiri mengacu kepada sejauh mana informasi yang masuk
diolah sehingga dapat diikat atau diintegrasikan dengan informasi yang telah
ada dalam ingatan (Craik dan Lockhart, dalam Morgan et al., 1986).
Telah disebutkan
bahwa prinsip dasar model tingkat pemrosesan informasi adalah semakin besar
upaya pemrosesan informasi selama belajar, semakin dalam informasi tersebut
akan disimpan dan diingat. Prinsip ini telah banyak diaplikasikan dalam
penyusunan setting pengajaran verbal, seperti mengingat daftar kata, juga
pengajaran membaca dan bahasa (Cermak & Craik, dalam Craik & Lockhart, 2002).
Manfaat teori
pemrosesan informasi antara lain :
1. membantu
terjadinya proses pembelajaran sehingga individu mampu beradaptasi pada
lingkungan yang selalu berubah
2. menjadikan
strategi pembelajaran dengan menggunakan cara berpikir yang berorientasi pada
proses lebih menonjol
3. kapabilitas
belajar dapat disajikan secara lengkap
4. prinsip
perbedaan individual terlayani
Hambatan teori
pemrosesan informasi antara lain :
1. tidak semua
individu mampu melatih memori secara maksimal
2. proses
internal yang tidak dapat diamati secara langsung
3. tingkat
kesulitan mengungkap kembali informasi-informasi yang telah disimpan dalam
ingatan
4. kemampuan
otak tiap individu tidak sama
Teori Pemrosesan
Informasi dari Robert Gagne
Asumsi yang
mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat
penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari
pembelajaran. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan
informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk
hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara
kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi
internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil
belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi
eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam
proses pembelajaran.
Berdasarkan kondisi internal dan eksternal,
Gagne menjelaskan bagaimana proses belajar itu terjadi. Model proses belajar
yang dikembangkan oleh Gagne didasarkan pada teori pemrosesan informasi, yaitu
sebagai berikut :
1. Rangsangan
yang diterima panca indera akan disalurkan ke pusat syaraf dan diproses sebagai
informasi.
2. Informasi
dipilih secara selektif, ada yang dibuang, ada yang disimpan dalam memori
jangka pendek, dan ada yang disimpan dalam memori jangka panjang.
3. Memori-memori
ini tercampur dengan memori yang telah ada sebelumnya, dan dapat diungkap
kembali setelah dilakukan pengolahan.
Seperangkat proses yang bersifat internal yang
dimaksud oleh Gagne adalah kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu
yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan terjadinya proses kognitif
dalam diri individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari
lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.
Teori pemrosesan informasi bermula dari asumsi
bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan.
Perkembangan salah satu hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut teori ini,
belajar merupakan proses mengelola informasi, namun teori ini menganggap
sisitem informasi yang diproses yang nantinya akan dipelajari siswa adalah yang
lebih penting. Karena informasi inilah yang akan menentukan proses dan bagaimana
proses belajar akan berlangsung akan sangat oleh sistem informasi yang
dipelajari.
Robert Gagne seorang ahli psikologi pendidikan
mengembangkan teori belajar yang mencapai kulminasinya (titik uncak) pada “The
Condition of Learning”. Banyak gagasan Gagne tentang teori belajar, seperti
belajar konsep dan model pemrosesan informasi, pada bukunya “The Condition of
Learning” mengemukakan bahwa: Learning is change in human disposition or
capacity, wich persists over a period time, and which is not simply ascribable
to process a groeth.
Dalam bukunya Robert M. Gagne disebutkan bahwa
: A very special kind of intellectual skill, of particular in probelem solving,
is called a cognitive strategy. In term of modern learning theory, a cognitive
strategy is a control process . An internal process by means of which thinking.
Gagne mengemukakan delapan fase dalam satu tindakan belajar. Fase-fase itu
merupakan kejadian-kejadian eksternal yang dapat distrukturkan oleh siswa atau
guru. Setiap fase dipasangkan dengan suatu proses yang terjadi dalam pikiran
siswa. Kejadian-kejadian belajar itu akan diuraikan dibawah ini, yaitu:
1. Fase motivasi : siswa yang belajar harus diberi motivasi untuk memanggil
informasi yang telah dipelajari sebelumnya.
2. Fase pengenalan : siswa harus memberikan perhatian pada bagian-bagian yang
esensial dari suatu kejadian instruksional, jika belajar akan terjadi.
3. Fase perolehan : apabila siswa memperhatikan informasi yang relevan, maka ia
telah siap untuk menerima pelajaran.
4. Fase retensi : informasi baru yang diperoleh harus dipindahkan dari
memori jangka pendek ke memori jangka panjang. Ini dapat terjadi melalui
penggulangan kembali
5. Fase pemanggilan : pemanggilan dapat ditolong dengan memperhatikan
kaitan-kaitan antara konsep khususnya antara pengetahuan baru dengan
pengetahuan sebelumnya.
6. Fase generalisasi : biasanya informasi itu kurang nilainya, jika tidak dapat
diterapkan diluar konteks di mana informasi itu dipelajari.
7. Fase penampilan : tingkah laku yang dapat diamati. Belajar terjadi apabila
stimulus mempengaruhi individu sedemikan rupa sehingga performancenya berubah
dari situasi sebelum belajar kepada situasi sesudah belajar.
8. Fase umpan balik : para siswa harus memperoleh umpan balik tentang
penampilan mereka yang menunjukkan apakah mereka telah atau belum mengerti
tentang apa yang diajarkan.
Asumsi yang mendasari teori-teori pemrosesan
informasi menjelaskan tentang (1) hakekat sistem memori manusia, dan (2) cara
bagaimana pengetahuan digambarkan dan disimpan dalam memori. Konsepsi lama
mengenai memori manusia adalah bahwa memori itu semata-mata hanya tempat
penyimpanan untuk menyimpan informasi dalam waktu yang lama, sehingga memori
diartikan sebagai koleksi potongan-potongan kecil informasi yang terlepas-lepas
atau saling tidak ada kaitannya. Akan tetapi pada tahun 1960-an memori manusia
mulai dipandang sebagai suatu struktur yang rumit yang mengolah dan
mengorganisasi semua pengetahuan manusia
Metode ini sangat cocok untuk pemerolehan
kemampuan yang membutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur
kecepatan spontanitas kelenturan daya tahan. Teori ini juga cocok diterapkan
untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan peran orang tua. Kekurangan
metode ini adalah pembelajaran siswa yang berpusat pada guru bersifat
mekanistis dan hanya berorientasi pada hasil. Murid dipandang pasif, murid
hanya mendengarkan, menghafal penjelasan guru sehingga guru sebagai sentral dan
bersifat otoriter.
Menurut
Atkinson
Teori pemrosesan informasi ini didasarkan pada
model memori dan penyimpanan yang dikemukakan oleh Atkinson dan Shiffin yang
menyatakan bahwa memori manusia terdiri dari tiga jenis yaitu sensori memori (sensory
register) yang menerima informasi melalui indra penerima
seperti mata, telinga, hidung, mulut, dan atau tangan, setelah beberapa detik,
informasi tersebut akan hilang atau diteruskan pada ingatan jangka pendek (short
term memory atau working memory). Informasi tersebut
setelah 5-20 detik akan hilang atau tersimpan ke dalam ingatan jangka panjang ( long
term memory).
MODEL PEMROSESAN INFORMASI
Pada hakikatnya model pembelajaran dengan
pemerosesan informasi didasarkan pada teori belajar kognitif. Model
pembelajaran tersebut berorientasi pada kemampuan siswa memproses informasi dan
sistem yang dapat memperbaiki kemampuan belajar siswa. Pemrosesan informasi
menunjuk kepada cara-cara mengumpulkan atau menerima stimulus dari lingkungan,
mengorganisasi data, memecahkan masalah, menemukan konsep-konsep dan pemecahan
masalah serta menggunakan simbol-simbol verbal dan non-verbal.
Proses informasi dalam ingatan dimulai dari
proses penerimaan informasi (encoding), diikuti dengan penyimpanan informasi
(stroge ) dan diakhiri dengan mengungkapkan kembali informas-informasi yang
telah disimpan dalam ingatan (retrival ). Teori belajar pemerosesan
informasi mendeskripsikan tindakan belajar merupakan proses internal yang
mencakup beberapa tahapan.
Encoding adalah
proses memasukkan informasi ke dalam memori. Sistem syaraf menggunakan kode
internal yang merepresentasikan stimulus eksternal. Dengan cara ini representasi
objek/kejadian eksternal dikodekan menjadi informasi internal dan siap
disimpan.
Stroge adalah
informasi yang diambilkan dari memori jangka pendek kemudian diteruskan untuk
diproses dan digabungkan ke dalam memori jangka panjang. Namun tidak semua
informasi dari memori jangka pendek dapat disimpan. Kunci penting dalam
penyimpanan di memori jangka panjang adalah adanya motivasi yang cukup untuk
mendorong adanya latihan berulang hal-hal dari memori jangka pendek.
Retrival adalah hasil akhir dari proses memori. Mengacu pada pemanfaatan
informasi yang disimpan. Agar dapat diambil kembali, informasi yang disimpan
tidak hanya tersedia tetapi juga dapat diperoleh karena meskipun secara
teoritis informasi yang disimpan tersedia tetapi tidak selalu mudah untuk menggunakan
dan menempatkannya.
Teori ini ditemukan oleh Gagne yang didasarkan atas hasil riset
tentang faktor-faktor yang kompleks pada proses belajar manusia.
Penelitiannya dimaksudkan untuk menemukan teori pembelajaran yang efektif.
Analisanya dimulai dari identifikasi konsep hirarki belajar, yaitu urut-urutan
kemampuan yang harus dikuasai oleh pembelajar (peserta didik) agar dapat
mempelajari hal-hal yang lebih sulit atau lebih kompleks.
Teori pemrosesan informasi umumnya berpijak pada tiga asumsi
berikut :
1. Antara stimulus dan respon berpijak pada asumsi, yaitu
pemrosesan informasi ketika pada masing-masing tahapan dibutuhkan sejumlah
waktu tertentu
2. Stimulus yang diproses melalui tahap-tahapan tadi akan
mengalami perubahan bentuk ataupun isinya
3. Salah satu tahapan mempunyai kapasitas yang terbatas.
Dari ketiga asumsi tersebut, dikembangkan
teori tentang komponen, yaitu komponen struktur dan pengatur alur pemrosesan
informasi (proses kontrol). Komponen-komponen pemrosesan informasi dipilih
berdasarkan perbedaan fungsi, kapasitas bentuk informasi, serta proses
terjadinya ”lupa”. Ketiga komponen tersebut adalah sebagai berikut :
·
· Sensory
Receptor (SR)
Sensory Receptor adalah sel tempat pertama kali informasi
diterima dari luar. Di dalam SR informasi ditangkap dalam bentuk aslinya,
informasi hanya bertahan dalam waktu yang sangat singkat dan mudah tergangu
atau berganti.
·
· Working
Memory (WM)
Working Memory diasumsikan mampu menangkap informasi yang
mendapat perhatian individu, perhatian dipengaruhi oleh persepsi.
KarakteristikWorking Memory adalah memiliki kapasitas terbatas (informasi hanya
mampu bertahan 15 detik jika tidak diadakan pengulangan) dan informasi dapat
disandi dalam bentuk yang berbeda dari stimulus aslinya. Artinya agar informasi
dapat bertahan dalam WM, upayakan jumlah informasi tidak melebihi kapasitas
disamping melakukan pengulangan.
·
· Long
Term Memory (LTM)
Long Term Memory diasumsikan: 1) berisi semua pengetahuan yang
telah dimiliki oleh individu, 2) mempunyai kapasitas tidak terbatas, dan 3)
bahwa sekali informasi disimpan di dalam LTM, ia tidak akan pernah terhapus
atau hilang. Sedangkan lupa adalah proses gagalnya memunculkan kembali
informasi yang diperlukan.
PEMBELAJARAN BERBANTUAN KOMPUTER (PBK)
Pemanfaatan Komputer dalam Pembelajaran
Komputer di dunia pendidikan tidak hanya
digunakan untuk mempelajari seluk beluknya, tetapi juga sebagai sarana komunikasi
serta sebagai media dalam proses pembelajaran. Hal ini karena potensi komputer
yang dapat dimanfaatkan untuk dunia pendidikan telah sangat luas dan menjangkau
berbagai kepentingan. Proses pembelajaran dapat juga dilaksanakan dengan
bantuan komputer.
Secara garis besar komputer dimanfaatkan dalam
dua macam penerapan, yaitu dalam bentuk pembelajaran dengan bantuan komputer (Computer
Assisted Instructional-CAI), dan pembelajaran berbasis komputer (Computer
Based Instruction-CBI). Dalam banyak hal kedua penerapan dalam pemanfaatan
komputer untuk pembelajaran ini adalah sama. Perbedaan yang menonjol diantara
keduanya terletak pada fungsi perangkat lunak yang digunakan. Pada CAI
perangkat lunak yang digunakan berfungsi membantu guru dalam proses pembelajaran,
seperti sebagai multimedia, alat bantu dalam presentasi maupun demontrasi atau
sebagai alat bantu dalam pelaksanaan pembelajaran. Adapun pembelajaran berbasis
komputer (CBI) mempunyai fungsi lebih luas. Perangkat lunak dalam CBI disamping
bisa dimanfaatkan sebagai fungsi CAI, bisa juga dimanfaatkan dengan fungsi
pembelajaran individual (individual learning).
Dalam pembelajaran bermedia komputer ini siswa
berhadapan dan berinteraksi secara langsung dengan komputer. Interaksi antara
komputer dan siswa ini terjadi secara individual dan komputer memang memiliki
kemampuan untuk itu. Dengan demikian apa yang dialami siswa satu dengan lainnya
tidak akan sama. Potensi pelayanan terhadap perbedaan siswa inilah komputer
digunakan dalam sistem pembelajaran.
Ciri-ciri Media Pembelajaran Berbantuan Komputer
Ciri-ciri media yang dihasilkan teknologi
berbantuan komputer (baik perangkat keras maupun perangkat lunak) sebagai
berikut:
(1) dapat digunakan secara acak, non-sekuensial, atau secara
linier,
(2) dapat digunakan berdasarkan keinginan siswa atau berdasarkan
keinginan perancang/pengembang sebagaimana direncanakannya,
(3) biasanya gagasangagasan disajikan dalam gaya abstrak dengan
kata, simbol dan grafik,
(4) prinsip-prinsip ilmu kognitif untuk mengembangkan media ini,
dan
(5) pembelajaran dapat berorientasi siswa dan melibatkan
interaktivitas siswa yang tinggi.
Keuntungan Media Pembelajaran Berbasis Komputer
Terdapat beberapa kelebihan media berbantuan
komputer terkait dengan multimedia interaktif yaitu:
1. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk memecahkan masalah
secara individual.
2. Menyediakan presentasi yang menarik dengan animasi.
3. Menyediakan pilihan isi pembelajaran yang banyak dan beragam.
4. Mampu membangkitkan motivasi siswa.
5. Mampu mengaktifkan dan menstimulasi metode pembelajaran
dengan baik.
6. Meningkatkan pengembangan pemahaman siswa terhadap materi
yang disajikan.
7. Merangsang siswa mendapat pengalaman bersifat konkrit, dan
retensi siswa meningkat.
8. Memberikan umpan balik secara langsung.
9. Siswa dapat menentukan sendiri percepatan belajarnya.
10. Siswa dapat melakukan self evaluation.
Hal ini didukung oleh Wankat dan Orenovicz
bahwa keuntungan lain dari pembelajaran berbantuan komputer adalah memberikan
kemudahan bagi guru mengembangkan materi pembelajaran lebih lanjut yaitu:
1. Mengakomodasi siswa yang lamban karena dapat menciptakan
iklim belajar yang efektif dengan cara yang lebih individual.
2. Merangsang siswa untuk mengerjakan latihan karena tersedianya
animasi grafis, warna dan musik.
3. Kendali berada pada siswa sehingga percepatan belajar
disesuaikan dengan tingkat kemampuan.
Keterbatasan Media Pembelajaran Berbantuan Komputer
Ada beberapa keterbatasan pembelajaran
berbantuan komputer, yaitu:
1. Hanya efektif jika digunakan oleh satu orang atau kelompok
kecil.
2. Tampilan yang kurang menarik dan tidak dirancang dengan baik
akan melemahkan motivasi siswa untuk belajar.
3. Guru yang tidak paham dengan aplikasi program harus bekerja
sama dengan ahli programmer grafis, juru kamera dan teknisi komputer.
4. Guru yang tidak menguasai strategi pembelajaran bermedia
komputer akan membuat pembelajaran menjadi tidak bermakna.
5. Dalam perancangannya memerlukan biaya yang relatif mahal.
6. Pembelajaran terbatas pada apa yang ada pada program saja.
Keterbatasan ini tentunya dapat diminalisir
dengan merancang multimedia semenarik mungkin sehingga siswa termotivasi untuk
belajar, guru meningkatkan kompetensinya dalam mengintegrasikan TIK dalam
pembelajaran, serta perlu kerja sama yang baik antara guru sebagai perancang
pembelajaran dengan programmer yang menguasai berbagai software pengembangan
media dalam memproduksi (membuat) multimedia.
Evaluasi Media Pembelajaran Berbantuan Komputer
Media seperti apapun yang dibuat perlu dinilai
terlebih dahulu sebelum dipakai secara luas, penilaian (evaluasi) ini
dimaksudkan untuk mengetahui apakah media yang dibuat tersebut dapat mencapai
tujuan-tujuan yang telah ditetapkan atau tidak. Beberapa beberapa tujuan
evaluasi media pembelajaran, yaitu :
1) Menentukan apakah media pembelajaran itu efektif.
2) Menentukan apakah media itu dapat diperbaiki atau
ditingkatkan.
3) Menentukan apakah media itu cost-effective dilihat
dari hasil belajar siswa.
4) Memilih media pembelajaran yang sesuai untuk dipergunakan
dalam proses belajar mengajar di kelas.
5) Menentukan apakah isi pelajaran sudah tepat disajikan dengan
media itu.
6) Menilai kemampuan guru menggunakan media pembelajaran.
7) Mengetahui apakah media pembelajaran itu benar-benar memberi
sumbangan terhadap hasil belajar seperti yang dinyatakan.
8) Mengetahui sikap siswa terhadap media pembelajaran.
Evaluasi dapat dilakukan dengan berbagai cara,
seperti diskusi kelas dan kelompok interviu perorangan, observasi mengenai
perilaku siswa, dan evaluasi media yang telah tersedia.
Permasalahan :
Bagaimana pengaruh teori atkinson yang paling besar bagi teori pemrosesan informasi ?
Saya akan mencoba menjawab permasalahan saudari nurazlina
BalasHapusteori pemrosesan informasi , Dalam model pemrosesan informasi yang dikembangkan oleh Atkinson & Shiffrin, kognisi manusia dikonsepkan sebagai suatu labor yang terdiri dari tiga bagian, yaitu masukan (input), proses dan keluaran (output). Informasi dari dunia sekitar merupakan masukan bagi labor. Stimulasi dari dunia sekitar ini memasuki reseptor memori dalam bentuk penglihatan, suara, rasa, dan sebagainya. Selanjutnya, input diproses dalam otak. Otak mengolah dan mentransformasikan informasi dalam berbagai cara. Proses ini meliputi pengkodean ke dalam bentuk-bentuk simbolis, membandingkan dengan informasi yang telah diketahui sebelumnya, menyimpan dalam memori, dan mengambilnya bila diperlukan. Akhir dari proses ini adalah keluaran, yaitu perilaku manusia, seperti berbicara, menulis, interaksi labor, dan sebagainya.
Saya pikir anda perlu menjabarkannya sehingga saya dapat memahami berbicara seperti apa yng merupakan keluaran atau hasil belajar yang di dapat kan itu baik
Hapusteori pemrosesan informasi , Dalam model pemrosesan informasi yang dikembangkan oleh Atkinson & Shiffrin, kognisi manusia dikonsepkan sebagai suatu labor yang terdiri dari tiga bagian, yaitu masukan (input), proses dan keluaran (output). Informasi dari dunia sekitar merupakan masukan bagi labor. Stimulasi dari dunia sekitar ini memasuki reseptor memori dalam bentuk penglihatan, suara, rasa, dan sebagainya. Selanjutnya, input diproses dalam otak. Otak mengolah dan mentransformasikan informasi dalam berbagai cara. Proses ini meliputi pengkodean ke dalam bentuk-bentuk simbolis, membandingkan dengan informasi yang telah diketahui sebelumnya, menyimpan dalam memori, dan mengambilnya bila diperlukan. Akhir dari proses ini adalah keluaran, yaitu perilaku manusia, seperti berbicara, menulis, interaksi labor, dan sebagainya.
BalasHapusSaya akan mencoba menjawab permasalahan Anda, dimana pengaruh paling besar dari Teori Atkins ini yaitu terletak pada memori manusia dalam pemrosesan informasi yg diterima.
BalasHapus1. Sensori Memori
Keberadaan memori sensoris mempunyai peran yang penting dalam hidup manusia. Orang harus menaruh perhatian pada suatu informasi bila informasi itu harus diingat. Dengan begitu ada proses seleksi dari kesadaran, mana informasi yang diperlukan dan mana yang tidak.
2. Short term-memory atau working memory
Ingatan jangka pendek terdiri dari tiga unit terpisah; putaran fonologi (phonological loop), gambaran penglihatan-ruang (visuo-spatial sketchpad), dan pelaksana pusat (central executive).
Putaran fonologi menyimpan dan mengingat kembali kata-kata yang saat itu sedang dipikirkan. Baddeley (1975) dalam penelitiannya, meminta partisipan mengingat kembali beberapa daftar pendek berisi kata-kata secara berurutan. Ia menemukan bahwa partisipan mampu mengingat kata-kata yang mereka sebutkan dalam dua detik. Kesimpulannya, putaran fonologi dapat menyimpan kata dengan baik dalam dua detik.
Gambaran penglihatan-ruang adalah ketika kita membentuk citra/gambaran mental tentang sesuatu. Gambaran penglihatan-ruang juga berperan dalam tugas-tugas spasial, misalnya mencari jalan memutar dan menentukan jarak.
3. Long term-memory
Sebelum masuk ke ingatan jangka panjang, informasi yang telah disaring pada ingatan jangka pendek, perlu dilakukan proses semantic atau imagery coding. Dalam proses ini arti dari informasi dianalisis lebih jauh lagi. Jadi, ingatan jangka panjang akan melakukan penyaringan informasi berdasarkan arti dari informasi tersebut, makna, keadaan emosi, gambaran akibat dan sebagainya, oleh karena itu penyimpanan informasi dapat berlangsung secara permanen.
Saya akan mencoba menjawab permasalahan saudari nurazlina
BalasHapusteori pemrosesan informasi , Dalam model pemrosesan informasi yang dikembangkan oleh Atkinson & Shiffrin, kognisi manusia dikonsepkan sebagai suatu labor yang terdiri dari tiga bagian, yaitu masukan (input), proses dan keluaran (output). Informasi dari dunia sekitar merupakan masukan bagi labor. Stimulasi dari dunia sekitar ini memasuki reseptor memori dalam bentuk penglihatan, suara, rasa, dan sebagainya. Selanjutnya, input diproses dalam otak. Otak mengolah dan mentransformasikan informasi dalam berbagai cara. Proses ini meliputi pengkodean ke dalam bentuk-bentuk simbolis, membandingkan dengan informasi yang telah diketahui sebelumnya, menyimpan dalam memori, dan mengambilnya bila diperlukan. Akhir dari proses ini adalah keluaran, yaitu perilaku manusia, seperti berbicara, menulis, interaksi labor, dan sebagainya.
teori pemrosesan informasi , Dalam model pemrosesan informasi yang dikembangkan oleh Atkinson & Shiffrin, kognisi manusia dikonsepkan sebagai suatu labor yang terdiri dari tiga bagian, yaitu masukan (input), proses dan keluaran (output). Informasi dari dunia sekitar merupakan masukan bagi labor. Stimulasi dari dunia sekitar ini memasuki reseptor memori dalam bentuk penglihatan, suara, rasa, dan sebagainya. Selanjutnya, input diproses dalam otak. Otak mengolah dan mentransformasikan informasi dalam berbagai cara. Proses ini meliputi pengkodean ke dalam bentuk-bentuk simbolis, membandingkan dengan informasi yang telah diketahui sebelumnya, menyimpan dalam memori, dan mengambilnya bila diperlukan. Akhir dari proses ini adalah keluaran, yaitu perilaku manusia, seperti berbicara, menulis, interaksi labor, dan sebagainya.
BalasHapusBaiklah saya akan menjawab permasalahan anda :
BalasHapusInformasi diterima oleh manusia melalui indera. Penerima informasi awal pada indera ini disebut sebagai memori sensorik (sensory memory). Menurut penelitian, informasi dari penglihatan hanya dapat bertahan kurang dari sedetik di memori sensorik, sedangkan informasi dari pendengaran dapat bertahan tiga sampai empat detik. Jika perhatian tidak diberikan pada informasi tersebut maka mereka akan hilang. Namun jika perhatian diberikan maka informasi akan diteruskan menuju memori jangka pendek (short term memory) yang dapat mempertahankan informasi hingga 15 detik.
Berdasar penjelasan tersebut kita dapat menyadari akan peran penting perhatian atau konsentrasi dalam memproses suatu informasi. Ratusan atau ribuan informasi sebenarnya berada di depan kita setiap saat. Namun jika kita tidak memperhatikannya maka sekian banyak informasi itu tidak akan memasuki pikiran.
Apa yang terjadi pada informasi di memori jangka pendek? informasi tersebut juga akan hilang jika kita tidak mengulang-ngulang perhatian padanya. Namun jika pengulangan dilakukan maka informasi dapat diteruskan ke memori jangka panjang (long term memory). Para peneliti menyatakan bahwa memori jangka panjang dapat menyimpan informasi sangat lama, tergantung pada penggunaannya. Jika teknik untuk meneruskan informasi ke memori jangka panjang adalah melalui pengulangan, kita menyebutnya sebagai proses menghafal atau mengingat.
Cara kedua untuk meneruskan informasi ke memori jangka panjang adalah dengan memahami (encoding). Maksudnya adalah menghubungkan informasi baru tersebut dengan berbagai informasi lama yang telah kita miliki (tersimpan dalam memori jangka panjang sebelumnya). Cara kedua ini diyakini membuat informasi dapat lebih tahan lama di memori kita. Selain itu dengan memahami maka semua informasi akan lebih bermanfaat dalam aplikasi kehidupan sehari-hari.
Sudah dijelaskan oleh teman2 diatas. Bahwa informasi diproses itu melalui memori jangka pendek lalu ke jangka panjang. Berdasarkan teori pemrosesan informasi ini terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh para guru:
BalasHapus1. Perhatian sangat penting, oleh karena itu selalu upayakan agar siswa anda benar-benar
memperhatikan pelajaran. Meskipun mereka tampak melihat anda, namun belum tentu pikiran
mereka perhatian kepada apa yang anda jelaskan.
2. Sebaiknya lebih mengutamakan belajar dengan memahami dari pada melalui hafalan.
untuk meneruskan informasi ke memori jangka panjang adalah dengan memahami (encoding). Maksudnya adalah menghubungkan informasi baru tersebut dengan berbagai informasi lama yang telah kita miliki (tersimpan dalam memori jangka panjang sebelumnya)
BalasHapusStimulasi dari dunia sekitar ini memasuki reseptor memori dalam bentuk penglihatan, suara, rasa, dan sebagainya. Selanjutnya, input diproses dalam otak. Otak mengolah dan mentransformasikan informasi dalam berbagai cara. Proses ini meliputi pengkodean ke dalam bentuk-bentuk simbolis, membandingkan dengan informasi yang telah diketahui sebelumnya, menyimpan dalam memori, dan mengambilnya bila diperlukan.
BalasHapusInformasi dari dunia sekitar merupakan masukan bagi labor. Stimulasi dari dunia sekitar ini memasuki reseptor memori dalam bentuk penglihatan, suara, rasa, dan sebagainya. Selanjutnya, input diproses dalam otak. Otak mengolah dan mentransformasikan informasi dalam berbagai cara. Proses ini meliputi pengkodean ke dalam bentuk-bentuk simbolis, membandingkan dengan informasi yang telah diketahui sebelumnya, menyimpan dalam memori, dan mengambilnya bila diperlukan. Akhir dari proses ini adalah keluaran, yaitu perilaku manusia, seperti berbicara, menulis, interaksi labor, dan sebagainya.
BalasHapusPembelajaran menurut Atkinson
BalasHapusAtkinson dan Shiffin dalam Levitin (2002:296) menyatakan bahwa memori manusia terdiri dari tiga jenis, yaitu sensori memori (sensory register) yang menerima informasi melalui indra penerima seperti mata, telinga, hidung, mulut, dan atau tangan, setelah beberapa detik informasi tersebut akan hilang atau diteruskan pada ingatan jangka pendek (short term memory atauworking memory). Informasi tersebut setelah 5 – 20 detik akan hilang atau tersimpan ke dalam ingatan jangka panjang (long term memory).
Dalam model pemrosesan informasi yang dikembangkan oleh Atkinson & Shiffrin, kognisi manusia dikonsepkan sebagai suatu labor yang terdiri dari tiga bagian, yaitu masukan (input), proses dan keluaran (output). Informasi dari dunia sekitar merupakan masukan bagi labor. Stimulasi dari dunia sekitar ini memasuki reseptor memori dalam bentuk penglihatan, suara, rasa, dan sebagainya. Selanjutnya, input diproses dalam otak. Otak mengolah dan mentransformasikan informasi dalam berbagai cara. Proses ini meliputi pengkodean ke dalam bentuk-bentuk simbolis, membandingkan dengan informasi yang telah diketahui sebelumnya, menyimpan dalam memori, dan mengambilnya bila diperlukan. Akhir dari proses ini adalah keluaran, yaitu perilaku manusia, seperti berbicara, menulis, interaksi labor, dan sebagainya.
Teori pemrosesan informasi berpijak pada tiga asumsi sebagaimana dikemukakan Lusiana dalam Budiningsih (2005:82) bahwa:
(a) antara stimulus dan respon terdapat suatu seri pemrosesan informasi di mana pada masing-masing tahapan dibutuhkan sejumlah waktu tertentu,
(b) stimulus yang diproses melalui tahapan tahapan tadi akan mengalami perubahan bentuk atau isinya, dan
(c) salah satu dari tahap memiliki keterbatasan kapasitas.